Kamu datang sebagai teman curhat yang tepat untukku saat aku ada masalah dengan pacarku. Tak lama, kita semakin dekat. Seperti layaknya sahabat. Ya, aku senang hal itu. Bahkan, kau yang pertama kali ingat bahwa aku sedang berulang tahun pada hari itu. Teman perempuanku malah tidak ada yang ingat, bahkan pacarku pun menjadi pengucap yang kedua. Manis.
Sejak pertama kali aku kenal kamu, aku rasa kita memang sudah dekat. Setiap ada tugas kelompok, namaku dan namamu pasti ada di 1 kelompok yang sama, kenangan yang indah bagiku. Seolah kita tak terpisahkan.
Beberapa bulan kita kenal, aku pun mengetahui semua tentangmu, begitu pula kamu. Rahasiaku, menjadi rahasiamu juga. Bahkan, disaat aku menangis karena ulah pacarku, kamulah yang pertama kali bertanya, 'kamu kenapa?' dan kamulah yang pertama kali bilang, 'udah jangan nangis, masalah gitu doang juga. senyum ya.' Sungguh, tak akan aku hapus dari memori otakku.
Kita menjadi teman dekat, meskipun kita berdua mempunyai seorang pacar. Kita saling sharing, bahkan saling caring. DIantara teman priaku, kamulah yang paling perhatian, paling menggemaskan, paling aaah semuanya. Bahkan, kamu mengalahkan "rating" pacarku.
Kamu itu yang membuat aku tersenyum, meskipun kamu bukan pacarku. Kamu sering menemaniku mengerjakan pr tengah malam, kita gila gilaan di kelas, menyontek saat ulangan, aa itu semua yang aku rindukan darimu sekarang.
Waktu aku putus dengan pacarku, kamu selalu menemani aku, memberi saran, memberi masukan agar hidupku lebih baik. Memang, sepertinya kamu kurang suka dengan sikap pacarku terhadapku yang semena mena.
Sikap ke-kurang-sukaanmu itu aku hanya anggap sebagai perhatian seorang sahabat. Ya, memang kita sahabat, kan?
Tak lama setelah aku putus, kita semakin dekat. Mungkin lebih dari sahabat. Mungkin. Mengajakku main, bercerita, curhat, itu selalu kita lakukan, setelah aku berstatus "bukan pacar orang lagi".
Kita semakin semakin dekat, namun hanya berstatus sahabat. Kita selalu bercerita di kantin tempat les kita. Sampai kita dikira berpacaran.
Pulang les kita sering balapan motor, ah itu asik. Ingin sekali ku ulang.
Lalu, tak lama, aku menaruh perasaan terhadap kamu. Tapi aku memilih diam. Ternyata, kau memiliki perasaan yang sama. Ya, itu kejutan tahun baru terindah dalam hidupku.
Kita berpacaran. Walau hanya lewat dunia maya. Awalnya hanya "umpet-umpetan", tapi lama kelamaan, semua teman temanku mengetahuinya, termasuk mantanku.
Ya, itu memang saat paling indah, dimana kita diejek "cieee jadian, ciee.". Itu ungkapan favoritku. Bagaimana denganmu?
Satu minggu hubungan kita memang masih mulus mulus saja. namun, dua sampai ke tiga minggunya, aku merasa ada yang aneh. Kita semakin renggang. Kau lebih sibuk dengan sahabatmu, sedangkan aku kamu "nomer-duakan". Awalnya aku masih terima. Namun, lama lama aku cape, aku kesel, aku muak dengan sikap kamu yang seperti ini. Akhirnya, satu minggu kemudian, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Tapi aku bahkan kita berjanji untuk menjadi sahabat. Dan kembali menjadi sahabat.
Ya, ternyata keputusanku ini membuat aku malah down. Aku salah ambil keputusan. Ini membuatku tak bisa fokus menghadapi Ujian Nasional. Namun lagi lagi, kamu datang dengan berkata, 'life must go on cha. kita mau ujian, jadi, urusan perasaan, ntaran dulu.' Ya, memang aku setuju dengan ungkapan itu.
Dan aku memutuskan untuk melupakan perasaan ini. Memendam dalam dalam, mengubur kenangan. Namun apa daya, hatiku tak mampu.
Inikah yang disebut gagal move on? Ah aku tak mau gagal moveon. Tapi, nyatanya, perasaan itu masih ada. Sampai sekarang. Namun, aku memilih untuk memendamnya, dan takpernah kuungkapkan padamu. Ini terlalu sulit untukku mengungkapkan padamu, apa yang tidak seharusnya aku ungkapkan.
Terima kasih untuk pengalaman yang kamu berikan untuk aku, ya :) love you
Tertanda, Annisaa Agung Mulyadi.
Komentar
Posting Komentar