Lebih dari empat ribu tiga ratus jam aku menunggumu di sini. Tak banyak yang kulakukan, hanya menunduk terbisu diserbu oleh angin jalang yang selalu saja mengejekku. Aku tak peduli. Aku akan terus disini, menunggumu. Sampai tak ada lagi alas an untuk aku tetap menunggu. Untuk kesekian kalinya sahabatku mengajakku untuk beranjak dari sini. Dan berhenti menunggu. “Dia tak akan datang.” Dengan yakinnya dia berkata seperti itu padaku. Aku tetap bergeming. Tetap membisu. Pura-pura tuli. Biar aku setengah mati menunggumu, berlumur nista, tercabik rasa, hingga remuk ragaku tak berupa. Aku tetap menunggumu karena aku sayang kamu. Yang aku tahu hanyalah menyayangimu. Aku hanya utuh jika bersamamu. Aku butuh kamu.. sekarang juga! “Kamu menunggu apa? Langit runtuh? Hah?” dia mulai berteriak padaku, sedangkan aku hanya memeluk lututku sambil menatap daun-daun kering yang berserakan di bawah kaki. “Kau tak usah lagi terlalu peduli padanya, pernahkah dia peduli padamu? Pada perasaanmu...
Random thoughts, random feelings, random writings