Langsung ke konten utama

Melepasmu..

Malam ini kamu datang menembus rintik-rintik hujan. Masih dengan senyuman yang sama ketika aku membuka pintu rumahku. Semilir angin menembus masuk mendahului kamu yang masih mematung disana, tersenyum ke arahku yang tak memberi senyum sedikit pun. Entah mengapa, malam ini terasa lebih beku dari biasanya.

Kamu masih duduk di tempat yang sama, dengan tatapan yang sama. Dan aku pun masih menatapmu dengan mata yang sama dari raga yang sama. Hanya saja, kini aku menatapmu bukan sebagai orang yang memiliki dirimu, aku kini serpihan dari masa lalumu.

"Akhirnya, aku dapat melihatmu"

Begitu kamu berucap. Hatiku bersorak ketika aku mendengar perkataanmu itu. Tapi, entah mengapa, aku tak bisa mengucapkan apa pun. Semuanya tersendat. Seperti perasaanku padamu beberapa hari terakhir ini. Aku hanya bisa menatap lantai. Aku bisa merasakan bagaimana kamu terus menatapku, seolah kamu ingin menghapalkan seluruh detail wajahku agar kamu tak lupa saat nanti kamu lama tak melihatku.

Lama kita berada dalam bisu. Hanya ada suara jangkrik yang meramaikan malam tanpa bintang ini. Aku tak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Bahkan, akupun tak tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang. Sunyi. Menunggu kamu membuka suara sama saja aku menunggu langit runtuh. Kamu masih saja terus menatapku. Beberapa saat pun aku mengamati dirimu. Kau terlihat lebih tampan dengan jaket merah itu.

Ah andaikan cicak di dinding itu dapat bicara, mungkin mereka sudah memaki kita berdua yang hanya menghabiskan waktu dengan terdiam. Aku tahu, kamu pun juga tahu, waktu tak akan mau menunggu. Tapi, aku akan tetap menunggu hingga kamu bicara. Selama ini kau selalu bermain dalam pikiranku. Berputar putar tak menentu.

"Aku masih mencintaimu."

Demikian kau artikan semua rasa yang kau sadari itu. Hanya dalam hati aku mampu berkata bahwa aku pun begitu. Entah kenapa lidah ini menjadi kelu saat mataku bertabrakan dengan cahaya yang menenangkan dari matamu. Rasa itu. Rasa yang selama ini mengendap dalam palung hatiku hingga tak dapat kulihat, kini hampir berada di permukaan beriringan dengan sedikit harapan. Yang kulakukan sekarang hanya menatapmu, dan menunggu kalimatmu selanjutnya.

Kamu menarik napas panjang sebelum kamu melanjutkan pengakuan-pengakuanmu berikutnya. Cicak di dinding pun hanya terdiam.

"Aku tak tahu apakah keputusanku kemarin untuk meninggalkanmu adalah benar. Satu hal yang harus kamu tahu. Aku tersiksa memikirkan ini. Mungkin aku menyesal." katamu.

Mataku sedikit melebar ketika mendengar lantunan kata yang kamu ucapkan. Ya.. dan kini semakin jelas. rasa itu kini telah sampai di permukaan dan hampir meluap. Seikat harapan itu berubah menjadi sebongkah harapan yang kian lama kian besar.

"Tapi, kamu harus tetap ikhlaskan aku pergi." tegasmu.

Sebuah gunung berapi baru saja meletus dari hatiku, diiringi hujan yang amat deras tiada henti. Rasa itu, berubah menjasi seperti ribuan belati yang siap merobek hatiku hingga binasa.

"M...maksud kamu apa?" kataku terbata-bata.

Aku memang harus bertanya tentang ini. Tentang semua yang kamu rasa dan tentang kalimat yang baru saja kamu lontarkan yang yak ubahnya bagaikan petir ditelingaku.

"Aku harus tetap pergi.."

Kamu menatapku sayu. Belati-belati itu resmi merobek hatiku. Menghancurkan sebongkah harap yang sudah menggunung hingga meletus saat itu juga. Debu  beterbangan di dalam hati. Membuatnya semakin keruh. Yang aku lakukan hanya tersenyum. Senyuman paling pahit yang pernah aku rasakan semenjak napas pertamaku. Tersenyum karana menahan tangis yang sudang menggenang di pelupuk mata dan siap berlomba untuk terjun bebas di pipi.

Lantas aku mengangguk tanda menyanggupi. Kendati tiang dalam hati satu per satu mulai patah dan ambruk entah kapan akan dapat diperbaiki lagi. Mulutku menganga hendak berkata sesuatu, namun kurasa kata yang akan kulempar keluar terlalu rumit hingga akhirnya aku menutup lagi mulutku.

"Maaf."

Sebuah kata terlontar lagi dari bibirmu. Kata yang berpengaruh apa pun bagiku. Kata yang sudah tak lagi ada artinya di benakku. Aku tetap diam. Kulihat kamu mulai berbenah dan hendak bangkit dari kursimu. Dadaku mulai bergemuruh berontak ingin teriakan padamu agar kamu jangan pergi dan tetap disini. Namun, perintah itu aku tolak mentah-mentah oleh tubuhku.

"Aku pulang ya, sudah malam."

Aku terdiam. Dan aku memang tak ingin menjawab iya. Aku memalingkan muka karena aku tak bisa berbuat apa pun untuk menahanmu agar kamu tetap di sini.

Kamu benar-benar bangkit dari tempat dudukmu. Dan ini berarti aku harus melakukan rutinitas mengantarmu ke pintu sampai kamu pergi menghilang di tinkungan dan terselimuti malam.

Tiba-tiba raga ini terasa seperti tak bertulang. Jangankan untuk berdiri, untuk bangkitpun aku tak sanggup. Tapi ini harus aku lakukan. Aku harus mengantarmu sampai pintu agar kamu bisa pulang. Pergi. Untuk sekarang, entah kapan akan kembali. Aku bersandar pada pintu saat kamu mulai berjalan menuju motormu. Hanya pintu ini yang menjadi sandaranku agar aku tidak terjatuh. Beberapa detik kemudian aku melihat kamu kembali mendekatiku.

Tersadar daguku sudah ada di bahumu dan tanganmu melingkar begitu erat di punggungku. Kamu memelukku. Mungkin untuk terakhir kalinya sebelum kamu pergi dan entah kapan kembali. Aku memejamkan mataku. Rasanya masih tetap sama. Berada di pelukanmu masih senyaman saat pertama kali kamu memelukku. Aku tak ingin melepaskan. Tidak!

Meski satu jam saja..

Tapi, aku tani kamu harus pergi sekarang. Pelahan tubuhmu melonggarkan rengkuhannya. Detik selanjutnya aku mengalir seperti sungai. Aku ikuti arusnya. Sampai benar-benar ke muara. Aku harus membiarkanmu pergi.

Kau kembali melangkah menuju motormu dan menyalakan mesih di tengah malam senyap yang dingin ini. Untuk terakhir kalinya, kamu menatapku dengan tangis sebelum kamu pergi menghilag di malam yang sunyi. Dan itu tak akan kembali lagi.

-@annisaaagung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Annisaa Mulyadi's Daily Routine

Hello good peeps! This is Annisaa writing from the bed. Di postingan blog kali ini agak lebih santai dan tidak menye-menye kaya biasanya yaa. So in this cheerful post, I am going to tell you qll things I do in a day straight! Dimulai dari bangun tidur, biasanya sih aku bangun tidur antara jam 5 sampai jam 6 pagi, tergantung alarm hpnya kedengeran di jam berapa 😆  Setelah bangun tidur, yang pasti aku buru buru langsung sholat subuh. Selesai sholat subuh, baru deh tiduran dikit lagi sambil scroll scroll Instagram sebentar, kadang ketiduran dikit. 10 menitan scroll Instagram, langsung deh aku melakukan ritual penghabisan air yaitu mandi. Gak pake lama, sat set war wer mandinya biar waktu make up nya gak kepotong banyak. Siap siap, pilih baju, make up, masuk masukin gadget dan charger ke tas trus siap berangkat! Seorang Annisaa punya kebiasaan buruk yaitu gapernah bisa sarapan pagi pagi, jadi langsung berangkat aja. Trus nanti dikantor baru deh jajan. Berangkat ke kantor bersama Lam...

Sial, Aku Jatuh Cinta.

       Aku mengenalmu dari melalui dunia yang tak nyata. Dunia penuh khayalan, imajinasi, dan mimpi. Ya, dunia maya. Lebih tepatnya, dunia roleplay.         Dari awal kita mention-an di aku roleplay, aku merasa kamu memang orang yang asik untuk diajak berteman.         Aku hanya berpikiran bahwa kita hanya bisa menjadi teman waktu itu.        Seiring berjalannya waktu, sejak aku meminta personal accountmu dan kaupun begitu, aku semakin merasakan bahwa aku semakin kepo terhadap sosok teman roleplay baruku ini.        Siapa kamu, darimana asalmu, kelas berapa kamu... Ah aku ingin tau semuanya.        Biarlah kamu mau bilang apa tentang sosokku yang kepo seperti ini. Ini juga karena aku ingin tau siapa teman baruku.Sampai akhirnya aku tau siapa kamu, walaupun hanya tau kalau kamu i...