Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Penantian.

Lebih dari empat ribu tiga ratus jam aku menunggumu di sini. Tak banyak yang kulakukan, hanya menunduk terbisu diserbu oleh angin jalang yang selalu saja mengejekku. Aku tak peduli. Aku akan terus disini, menunggumu. Sampai tak ada lagi alas an untuk aku tetap menunggu. Untuk kesekian kalinya sahabatku mengajakku untuk beranjak dari sini. Dan berhenti menunggu. “Dia tak akan datang.” Dengan yakinnya dia berkata seperti itu padaku. Aku tetap bergeming. Tetap membisu. Pura-pura tuli. Biar aku setengah mati menunggumu, berlumur nista, tercabik rasa, hingga remuk ragaku tak berupa. Aku tetap menunggumu karena aku sayang kamu. Yang aku tahu hanyalah menyayangimu. Aku hanya utuh jika bersamamu. Aku butuh kamu.. sekarang juga! “Kamu menunggu apa? Langit runtuh? Hah?” dia mulai berteriak padaku, sedangkan aku hanya memeluk lututku sambil menatap daun-daun kering yang berserakan di bawah kaki. “Kau tak usah lagi terlalu peduli padanya, pernahkah dia peduli padamu? Pada perasaanmu...

Melepasmu..

Malam ini kamu datang menembus rintik-rintik hujan. Masih dengan senyuman yang sama ketika aku membuka pintu rumahku. Semilir angin menembus masuk mendahului kamu yang masih mematung disana, tersenyum ke arahku yang tak memberi senyum sedikit pun. Entah mengapa, malam ini terasa lebih beku dari biasanya. Kamu masih duduk di tempat yang sama, dengan tatapan yang sama. Dan aku pun masih menatapmu dengan mata yang sama dari raga yang sama. Hanya saja, kini aku menatapmu bukan sebagai orang yang memiliki dirimu, aku kini serpihan dari masa lalumu. "Akhirnya, aku dapat melihatmu" Begitu kamu berucap. Hatiku bersorak ketika aku mendengar perkataanmu itu. Tapi, entah mengapa, aku tak bisa mengucapkan apa pun. Semuanya tersendat. Seperti perasaanku padamu beberapa hari terakhir ini. Aku hanya bisa menatap lantai. Aku bisa merasakan bagaimana kamu terus menatapku, seolah kamu ingin menghapalkan seluruh detail wajahku agar kamu tak lupa saat nanti kamu lama tak melihatku. ...

Desember!

          Ya, desember telah datang!           Aku pun telah menemukan orang yang tepat untuk sedikit melupakan masa laluku. Melupakan kamu 'si owner RP'.           Kenapa aku melupakannya? Alasannya, dia abu-abu. Dia sama tidak jelasnya dengan ilmu sejarah. Dia tidak pasti.           Datang pun hanya kalau ada maunya. Hati siapa yang tidak lelah menghadapi orang seperti dia? Aku menangis tiap malam. Aku rela tidur tengah malam hanya untuk menemaninya nonton bola. Tapi, saat aku butuh dia, dia tidak ada.          Ya memang, dia pernah bilang dia kalau dia sayang sama aku. Tapi, sayang sebagai apa? Teman? Fine.          Setiap hari dia pakai kata kata manis untuk menghibur, tapi aku tak tau apa artinya. Aku tak tau dia sed...