Lebih dari empat ribu tiga ratus
jam aku menunggumu di sini. Tak banyak yang kulakukan, hanya menunduk terbisu
diserbu oleh angin jalang yang selalu saja mengejekku. Aku tak peduli. Aku akan
terus disini, menunggumu. Sampai tak ada lagi alas an untuk aku tetap menunggu.
Untuk kesekian kalinya sahabatku
mengajakku untuk beranjak dari sini. Dan berhenti menunggu.
“Dia tak akan datang.” Dengan yakinnya
dia berkata seperti itu padaku.
Aku tetap bergeming. Tetap membisu.
Pura-pura tuli. Biar aku setengah mati menunggumu, berlumur nista, tercabik rasa,
hingga remuk ragaku tak berupa. Aku tetap menunggumu karena aku sayang kamu. Yang
aku tahu hanyalah menyayangimu. Aku hanya utuh jika bersamamu. Aku butuh kamu..
sekarang juga!
“Kamu menunggu apa? Langit runtuh? Hah?”
dia mulai berteriak padaku, sedangkan aku hanya memeluk lututku sambil menatap
daun-daun kering yang berserakan di bawah kaki.
“Kau tak usah lagi terlalu peduli
padanya, pernahkah dia peduli padamu? Pada perasaanmu? Lepaskan dia, sudah
cukup kau berlumur luka,” tambahnya.
“Aku akan menunggunya,” suaraku
bergetar memecah bisu yang memberangus mulutku.
“Banyak yang lebih mencintaimu dari
pada dia….”
“Dia juga bilang sayang padaku.”
“Lalu, setelah itu apa lagi?”
Aku
diam. Setelah itu apa? Iya, aku tak pernah tau setelah itu apa yang akan
terjadi atau seharusnya terjadi. Hingga saat ini aku pun tak tau. Karena hanya
sebatas itu, nyata yang hadir. Terkadang aku merasa kamu membutuhkanku, lebih sering
aku merasa kamu tak bisa lihat aku. Mungkin aku hanya bayangan, mungkin aku
hanya angin, mungkin aku hanya hujan yang lantas mereda, mungkin aku hanya
embun yang mongering dikala mentari menampakkan kegagahannya. Tapi, aku tetap
ingin menunggumu.
“Dia pernah bilang dia akan datang ke
sini, menjemputku,” aku berkata parau seperti sebentk bisikan antara harapan
dan keraguan.
“Kau gila!” dia berjalan menjauh. Meracau
tak jelas.
Iya aku gila. Akal sehat seperti
menghilang dari kepalaku atau mungkin aku tak punya. Kakiku tak juga beranjak
melagkah dari sini kendati aku hampir menahan rasa sakit yang mendera, karena
aku yakin semuanya akan terobati ketika kamu datang dan memelukku.
Hingga semua daun di pohon ini
habis berguguran, hingga hujan kembali mongering, hingga langit berganti-ganti
rupa… kamu tak juga datang, menjemputku. Aku mengerontang, harapanku hampir
hilang. Ragaku meminta mati. Pengelihatanku mulai buram tergenangi air mata. Akankah
kamu datang? Akankah kamu ingat janjimu? Masihkah…masihkah kau menyayangiku?
Ya! Pertanyaan terakhir akan aku
tanyakan ketika kamu nanti datang kesini dan mungkin pertanyaan itu adalah
batas dimana aku harus tetap tinggal atau harus berbalik pergi. Sepuluh menit
yang lalu, aku sudah resmi menangis, tanpa isak, hanya terasa sesak. Tangisku mulai
reda saat aku melihat sepasang kaki berhenti dihadapanku. Kutengadahkan kepala
melihat pemilik kaki yang sepertinya aku hapal. Dan… seluruh otakku kembali
bekerja. Segera aku tersenyum. Kamu datang! Aku tahu kamu pasti datang. Jiwaku mulai
utuh seketika saat aku menatap matamu yang sejernih telaga. Aku harus
menanyakan pertanyaan terakhir itu, sekarang juga. Baru saja aku hendak membuka
mulutku, mataku mulai menangkap sosok wanita di belakangmu. Matanya berbinar
dengan lesung pipit di pipinya, ia tersenyum ke arahku. Aku membeku. Keutuhan jiwaku
mulai runtuh.
“Dia kekasihku,” dengan tenang kamu
berucap.
Seluruh organ di tubuhku seperti
tak mau bekerja. Aku tak bisa menggerakkan apa pun, sesungguhnya saat ini juga aku ingin berlari dari sini,
menjauh sejauh-jauhnya.
Semua yang kulihat, yang kudengar
darimu benar-benar langsung menghancurkan jiwaku, memaksaku untuk
menginjak-injak harapanku.
Dia
kekasihmu? Tanya itu berputar-putar memenuhi pikiranku, mengundang beribu
penabuh gendering yang segera menyadarkanku dengan apa yang telah terjadi,
mendatangkan berjuta pisau, belati, anak panah yang langsung menghunus dan
mencabik hatiku.
Lalu
aku apa? Selama ini kau anggap aku apa? Dan penantianku…… sia-sia.
“Sss… selamat ya?” suaraku bergetar
menjelma sebuah bisikan.
Awan hitam mulai menghias langit. Aku
tetap bergeming menatap nanar dirimu.
“Sedang apa disini?” tanyamu.
“Aku mau pulang.”
Petir itu terukir membelah langit,
sama dengan semakin terbelahnya hatiku. Air mataku sudah berontak ingin keluar
maka secepat kilat aku berbalik pergi meninggalkanmu bersama wanita itu. Kau tetap diam disana, tak bertanya, tak mengejar,
bahkan tak memanggilku. Aku berlari secepat yang aku bisa. Isakkanku semakin
kencang, hujan mulai turun satu-satu menyentuh lengan. Inilah batasnya. Inilah saatnya
aku harus berhenti menyayangimu. Inilah saatnya aku harus berbalik pergi. Inilah
waktu dimana tak ada lagi alasanku untuk menunggumu….
-A
Komentar
Posting Komentar